Jakarta, CNN Indonesia —
Thailand Ditengah menyiapkan struktur tarif cukai Kendaraan Listrik (EV) tiga tingkat yang memberatkan produk Pembelian Barang Di Luar Negeri utuh dibanding EV rakitan lokal.
Aturan ini sudah disetujui secara prinsip Bersama dewan Aturan EV nasional Thailand, menurut seorang pejabat kementerian keuangan yang dikutip Automotive World, Kamis (10/9).
Kendaraan Pribadi Bertenaga Listrik Pembelian Barang Di Luar Negeri utuh bakal kena tarif Ke atas baseline 10 persen Pada ini, Sambil Itu EV rakitan lokal Memperoleh tarif terendah. Besaran tarif final dan lama masa tenggang Aturan ini belum ditetapkan pemerintah Thailand.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thailand kini Berjuang Bersama persaingan nyata Di Indonesia dan Vietnam, yang sama-sama menawarkan insentif Sebagai Menarik Perhatian Penanaman Modal Di Negeri Pabrik Produsen Kendaraan China.
Situasi ini Berpotensi Sebagai Mendorong produsen China mengejar status produksi lokal Ke beberapa pasar Asia Tenggara sekaligus, alih-alih menjadikan Thailand basis Penjualan Barang Hingga Luar Negeri tunggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Delapan produsen asal China, yakni BYD, Great Wall, Changan, SAIC, Chery, Hozon, GAC, dan Wuling, sudah Mengintroduksi pabrik perakitan Ke Thailand. Sebagian besar sudah beroperasi per kuartal II 2026, menurut laporan itu.
Skala ini disebut menjadikan Thailand tujuan Penanaman Modal Di Negeri Pabrik EV China terbesar ketiga Ke dunia Di sisi nilai Penanaman Modal Di Negeri, Ke bawah Hungaria dan Brasil, serta terbanyak Di sisi jumlah pabrik.
Bersama pabrik lokal yang sudah berjalan, sejumlah produsen itu berpeluang otomatis masuk kelompok tarif rendah begitu aturan Mutakhir berlaku, Agar dampak proteksionis Aturan ini disebut belum tentu signifikan mengubah pangsa pasar mereka.
Dominasi China
Perjanjian dagang bebas Thailand-China Sebelum 2003 membuat EV buatan China masuk bebas tarif, berbeda Bersama tarif Pembelian Barang Di Luar Negeri baseline Kendaraan Pribadi Di sebagian besar Negeri lain yang mencapai 80 persen. Jepang Memperoleh keringanan tarif 20 persen lewat perjanjian bilateral terpisah.
Skema insentif EV 3.0 Thailand yang diluncurkan Ke 2022 memadukan pemotongan Pajak Lainnya dan Bantuan Pemerintah tunai Bersama syarat kandungan lokal, Tetapi kewajiban itu ditunda hingga 2024.
Celah ini disebut memberi produsen China Di dua tahun akses bersubsidi dan bebas tarif Sebelumnya syarat produksi lokal berlaku. Hasilnya, merek China menguasai 89 persen pasar EV Thailand Ke akhir 2025.
Merek EV China memangkas harga 10,2 persen Antara musim pameran Produsen Kendaraan 2023 dan 2024, lalu memangkas 13,1 persen lagi Ke awal 2025, Sebelumnya melandai menjadi 2,7 persen Ke sisa tahun itu, menurut lembaga Kajian Krungsi.
Rhodium Group mencatat selisih harga hingga 50 persen Antara EV asal China dan non-China per Mei 2026.
Penjualan EV China Ke Thailand sempat memuncak Ke Desember 2025 menjelang insentif berakhir Januari, lalu anjlok Sebelumnya pulih mendekati level 2025 Di hitungan bulan, tanpa pangsa pasar mereka bergeser signifikan.
(fea)
Artikel ini disadur –> Cnnindonesia News: Bersaing Bersama RI, Thailand Waspadai Penanaman Modal Di Negeri EV China Kabur











