Badan Pengawas Terapi dan Konsumsi (BPOM) menemukan ratusan takjil yang tidak memenuhi standar Keselamatan Kelaparan Global Di pengawasan Konsumsi Ramadan 2026. Didalam ribuan sampel yang diperiksa Di berbagai Lokasi Di Indonesia, sebagian Di antaranya terbukti mengandung bahan kimia berbahaya yang seharusnya tidak digunakan Di Konsumsi.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyebut pemeriksaan dilakukan Di 5.447 sampel takjil Didalam 2.407 pedagang Di 513 lokasi Di seluruh Indonesia. Hasilnya, 108 sampel dinyatakan tidak memenuhi Syarat Sebab mengandung zat berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, hingga methanil yellow.
Temuan tersebut Menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia berbahaya Di Konsumsi masih menjadi masalah yang terus berulang setiap Ramadan. Zat-zat tersebut melanggar aturan Keselamatan Kelaparan Global Sebab dapat menimbulkan risiko Kesejajaran serius jika dikonsumsi Di jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah Studi toksikologi Menunjukkan beberapa bahan kimia yang ditemukan Di takjil tersebut bersifat toksik dan Malahan Berpotensi Sebagai memicu kanker ketika terpapar secara berulang Di Di tubuh.
Bahan Berbahaya yang Sering Ditemukan Di Takjil
Didalam hasil pengawasan BPOM, ada beberapa bahan kimia yang paling sering disalahgunakan Di Konsumsi berbuka puasa. Zat tersebut sebenarnya bukan Sebagai Kelaparan Global, melainkan Sebagai industri atau keperluan lain.
1. Formalin
Formalin adalah larutan formaldehida yang biasa digunakan Di industri, misalnya Sebagai pengawet spesimen biologis atau bahan desinfektan. Di praktiknya, zat ini sering disalahgunakan sebagai pengawet Konsumsi Sebab mampu membuat Konsumsi tampak segar lebih lama.
Di beberapa Peristiwa Pidana Hukum, formalin ditemukan Di mi kuning basah, tahu, ikan, hingga seafood. Tekstur Konsumsi yang diberi formalin biasanya terasa lebih kenyal dan tidak mudah rusak meski disimpan lama.
Masalahnya, formaldehida dikenal sebagai senyawa yang Berpotensi Sebagai memicu kanker. Badan Studi kanker dunia, International Agency for Research on Cancer (IARC), mengklasifikasikan formaldehida sebagai karsinogen Untuk manusia Sebab terbukti dapat menyebabkan kanker nasofaring dan leukemia.
Studi terbaru Di jurnal Food Chemistry yang dipublikasikan Di tahun 2025 juga menjelaskan bahwa formaldehida merupakan senyawa reaktif yang dapat menimbulkan berbagai efek toksik Di tubuh, mulai Didalam gangguan sistem saraf, kerusakan genetik, hingga efek karsinogenik.
Sebab itu, penggunaan formalin Di Konsumsi dilarang keras Di banyak Negeri, termasuk Indonesia.
2. Boraks
Boraks merupakan bahan kimia yang lazim digunakan Di industri pembersih, pestisida, atau bahan pembuat kaca. Tetapi Di praktiknya, zat ini juga sering disalahgunakan Di Konsumsi seperti bakso, mi, atau lontong Sebagai membuat teksturnya lebih kenyal dan Konsisten lama.
Konsumsi yang mengandung boraks biasanya terasa lebih kenyal Didalam biasanya dan tidak mudah hancur. Di sebagian Peristiwa Pidana Hukum, mi atau bakso juga tampak lebih mengilap.
Masalahnya, boraks dapat bersifat toksik Untuk tubuh. Salah satu Studi Di Indonesia Di jurnal SAGO Gizi dan Kesejajaran Menunjukkan paparan boraks Di Konsumsi dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal, hingga gangguan sistem saraf jika dikonsumsi terus-menerus.
Paparan kronis Di zat ini juga dapat memicu gangguan metabolisme tubuh Sebab akumulasi bahan kimia Di organ vital.
3. Rhodamin B
Rhodamin B sebenarnya adalah pewarna sintetis yang digunakan Di industri tekstil, Alattulis, atau tinta. Warna merahnya yang sangat cerah membuat sebagian pedagang nakal memanfaatkannya Sebagai mempercantik tampilan Konsumsi atau minuman.
Zat ini kadang ditemukan Di sirup, es campur, kerupuk merah, hingga jajanan pasar yang warnanya sangat mencolok.
Padahal rhodamin B termasuk bahan berbahaya yang tidak boleh digunakan Di Konsumsi. Sejumlah Studi menemukan bahwa zat ini masih terdeteksi Di beberapa Konsumsi dan minuman yang dijual Di Kelompok.
Studi toksikologi juga Menunjukkan akumulasi rhodamin B Di tubuh dapat merusak organ seperti hati, ginjal, dan sistem limfatik jika terpapar Di jangka panjang.
4. Methanil Yellow
Methanil yellow adalah pewarna sintetis yang biasa digunakan Di industri tekstil dan Alattulis. Warnanya kuning terang Supaya kadang disalahgunakan Sebagai membuat Konsumsi terlihat lebih Menarik Perhatian.
Beberapa Konsumsi yang berisiko mengandung zat ini Antara lain kerupuk kuning, mi kuning, atau jajanan Didalam warna kuning yang sangat mencolok.
Studi Keselamatan Kelaparan Global Menunjukkan bahwa rhodamin B dan methanil yellow termasuk pewarna berbahaya yang dilarang digunakan Di produk Konsumsi Sebab dapat menimbulkan efek toksik Di tubuh.
Paparan jangka panjang Di pewarna sintetis tersebut juga dikaitkan Didalam gangguan fungsi hati serta potensi efek karsinogenik.
Dampaknya Tidak Langsung, Tapi Muncul Di Masa Didepan
Bahaya Didalam bahan kimia seperti formalin, boraks, rhodamin B, atau methanil yellow sering kali tidak langsung terasa Sesudah dikonsumsi. Banyak orang Bisa Jadi merasa baik-baik saja Sesudah menyantap jajanan tertentu. Tetapi para peneliti menjelaskan bahwa efek Didalam zat kimia tersebut bisa muncul perlahan Sesudah paparan terjadi berulang Di waktu lama.
Setiap zat yang masuk Ke tubuh Di akhirnya Akansegera diproses Dari organ penyaring alami seperti hati dan ginjal. Keduanya bekerja seperti sistem filter yang terus menyaring darah Didalam berbagai zat Asing. Jika bahan kimia berbahaya masuk berulang kali Lewat Konsumsi, organ-organ tersebut harus bekerja lebih keras Sebagai menetralisir dan membuangnya Didalam tubuh.
Topik ini menjadi Lebihterus relevan Sebab bulan Maret diperingati sebagai Renal Cancer Awareness Month, yaitu momentum Internasional Sebagai Memperbaiki kesadaran Di kanker ginjal. Sosialisasi Politik ini mengingatkan bahwa kanker ginjal sering berkembang secara perlahan dan dipengaruhi Dari berbagai faktor risiko, termasuk paparan zat kimia berbahaya Didalam lingkungan maupun Konsumsi.
Sebab itu, Kendati dampaknya tidak langsung terasa, paparan bahan kimia berbahaya Didalam Konsumsi tetap perlu diwaspadai. Pilihan Konsumsi yang dikonsumsi sehari-hari, termasuk Pada berbuka puasa, dapat berperan Di menjaga Kesejajaran organ tubuh Di jangka panjang.
Halaman 2 Didalam 3
Simak Video “25 Tahun BPOM RI Hadapi Tantangan Keselamatan Terapi dan Konsumsi“
(mal/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: BPOM Ungkap Ratusan Takjil Mengandung Bahan Berbahaya, Kenali Bahayanya











