Indonesia Ranking 5 Pengidap Diabetes Terbanyak Ke Dunia, Inikah Pemicunya?⁠

Jakarta –

Data International Diabetes Federation (IDF) 2025 mencatat, Di 20,4 juta penduduk Indonesia usia 20-79 tahun hidup Di diabetes. Angka ini menempatkan Indonesia Ke posisi kelima dunia, Ke bawah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan.

Akumulasi perubahan Cara Hidup secara terus-menerus Di jangka waktu panjang menjadi pemicu utama Ke balik lonjakan angka kejadian Gangguan metabolik ini Ke Tanah Air. Diabetes atau Gangguan gula darah tinggi yang tidak terkontrol ini bukan cuma menyerang usia tua, Pada ini prevelansi diabetes usia muda juga Menimbulkan Kekhawatiran.

Direktur Gangguan Tidak Menular Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi menyebut maraknya konsumsi minuman berpemanis Di kemasan (MBDK) serta kebiasaan nongkrong Ke kalangan Gen Z turut memperparah tingkat risiko diabetes usia muda Ke Indonesia. Menurut Nadia, tingkat kemanisan produk minuman lokal cenderung lebih tinggi dibandingkan beberapa Bangsa tetangga.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Gen Z paling senang beli Minuman Kafein terus duduk berjam-jam asal ada Wi-Fi. Terbukti bahwa Ke Indonesia minuman manis Di kemasan Karena Itu Tren. Mau Ke gerai minuman apa pun, antreannya panjang,” ucap Nadia Pada ditemui Selasa, (3/11/2026).

Senada Di temuan tersebut, ahli gizi Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi AIFO-K menegaskan bahwa akumulasi perubahan Cara Hidup Di jangka panjang menjadi faktor mendasar Ke balik tingginya Perkara Pidana Hukum diabetes yang sering kali tidak disadari Di pengidapnya.

“Angka kejadian diabetes naik terus Di tahun Ke tahun, awalnya Sebab perubahan Cara Hidup secara terus-menerus Di jangka waktu panjang. Kalau ada 10 orang berkumpul, ada Di dua orang yang kena diabetes tapi tidak sadar,” ujar dia.

Ancaman Komplikasi dan Rendahnya Kepatuhan Pasien

Nadia mengingatkan bahwa diabetes melitus yang tidak terkontrol secara konsisten dapat memicu kerusakan berbagai organ vital tubuh secara permanen.

Di pelaksanaan tes gula darah sewaktu (GDS) Pada skrining awal Ke Langkah cek Kesejaganan gratis (CKG), petugas Kesejaganan sering kali mendapati pasien Di Kepuasan menolak diagnosis (denial), terutama mereka yang belum merasakan Tanda-Tanda fisik. Di Di 27 juta orang yang sudah menjalani skrining tahap awal dan 295 ribu Ke antaranya terdeteksi diabetes, hanya Di 21 persen pasien yang bersedia mengonsumsi Terapi secara rutin.

“Sebab kalau orang Indonesia disuruh datang lagi, denial. Apalagi kalau masih muda dan tidak ada riwayat. Kita sudah kasih Terapi yang paling aman dan minimal tapi kadang tidak mau datang lagi. Padahal obatnya ini Ke awal gratis, sisanya bisa menggunakan BPJS. Yang gula darahnya terkendali cuma Di 2,3 persen Di yang terdiagnosis,” ungkap Nadia.

(kna/kna)

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Indonesia Ranking 5 Pengidap Diabetes Terbanyak Ke Dunia, Inikah Pemicunya?⁠