Keadaan mental para pemimpin dunia selalu menjadi topik yang sensitif Akan Tetapi krusial Untuk publik. Terbaru-Terbaru ini, perhatian kembali tertuju Ke Donald Trump, menyusul serangkaian perilaku dan pernyataan yang memicu perdebatan Di kalangan ahli psikologi dan saraf.
Kekhawatiran ini mencuat Setelahnya Trump merespons pertanyaan wartawan Yang Berhubungan Didalam Keadaan mentalnya Didalam sikap acuh tak acuh. “Saya tidak peduli Didalam Penilaian,” ujarnya. Akan Tetapi, Untuk para ahli, masalahnya jauh lebih Untuk daripada sekadar gaya bicara yang blak-blakan.
John Gartner, seorang psikolog Didalam Universitas Johns Hopkins, secara terang-terangan menyebut Trump sebagai seorang “narsisis ganas” (malignant narcissist). Menurut Gartner, ini bukan sekadar narsisme biasa yang sering dimiliki politisi, melainkan kombinasi Didalam empat komponen berbahaya yakni:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Psikopati: Kecenderungan berbohong, menipu, dan melanggar aturan tanpa rasa penyesalan.
- Paranoia: Merasa terus-menerus diserang Supaya selalu mencari cara Untuk membalas dendam.
- Grandiositas: Keyakinan berlebih bahwa dirinya adalah yang terbaik Untuk segala hal.
- Sadisme: Menikmati kekacauan dan penghinaan Di orang lain.
Untuk wawancara Didalam laman El Pais, Gartner juga menambahkan bahwa Trump Menunjukkan ciri hipomania, yang menjelaskan energi luar biasa yang ia miliki, kurangnya kebutuhan Akansegera tidur, serta impulsivitas Untuk Memutuskan keputusan Sebab merasa selalu benar.
Indikasi Penurunan Kognitif dan Demensia
Selain gangguan kepribadian, beberapa ahli menyoroti adanya tanda-tanda penurunan fungsi otak yang cukup mengejutkan jika dibandingkan Didalam gaya bicaranya Ke era 1980-an. Frank George, seorang ahli neurosains, Merasakan Tanda-Tanda yang mengarah Ke Demensia Frontotemporal (FTD).
Berbeda Didalam Alzheimer, FTD menyerang lobus frontal yang berfungsi sebagai pusat kendali logika dan pengambilan keputusan manusia. George menyebutkan tiga Tanda-Tanda utama yang mulai terlihat yakni:
- Konfabulasi: Meyakini cerita rekaan sendiri seolah-olah itu adalah kenyataan.
- Parafasia: Kegagalan Untuk pengucapan kata atau kesulitan menyelesaikan kalimat.
- Insistensi: Pengulangan cerita atau klaim yang sama secara terus-menerus.
“Ini seperti pagar pembatas neurologis yang menghilang,” jelas George. Hal ini membuat sifat narsisme yang sudah ada Sebelum dulu menjadi muncul secara lebih ekstrem dan tidak terkendali.
Pandangan Publik dan Respon Gedung Putih
Kekhawatiran para ahli ini tampaknya mulai selaras Didalam persepsi publik. Berdasarkan jajak pendapat Reuters-Ipsos Terbaru-Terbaru ini, Disekitar 61 persen warga Amerika percaya bahwa Trump menjadi Lebih tidak menentu seiring bertambahnya usia. Kepercayaan publik Di ketajaman mentalnya pun menurun drastis Didalam 54 persen Ke tahun 2023 menjadi hanya 45 persen Pada ini.
Merespons berbagai tudingan tersebut, Gedung Putih bersikap defensif. Direktur Komunikasi Steven Cheung mengancam Akansegera menuntut media yang Disorot “menyebarkan kebohongan”. Mereka merujuk Ke hasil laporan medis resmi April 2025 yang Berkata bahwa pemeriksaan neurologis Trump Menunjukkan hasil normal.
Untuk laporan yang ditandatangani Dari Praktisi Medis kepresidenan Sean Barbarella, Trump Merasakan skor sempurna 30/30 Ke Montreal Cognitive Assessment (MoCA). Akan Tetapi Untuk para kritikus, rekam jejak perilaku Di puluhan tahun Di mata publik jauh lebih akurat Untuk mendiagnosis gangguan kepribadian dibandingkan sekadar tes kognitif singkat.
Halaman 2 Didalam 3
(kna/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Keadaan Mental Trump Karena Itu Sorotan, Pakar Soroti Kemungkinan Narsisme-Demensia











