Jakarta –
Ada sebuah makam berbentuk tidak biasa Di Blitar. Makam itu seperti ‘tergantung’ Di atas tanah. Konon, itu makam pemilik ajian Pancasona.
Di balik hiruk-pikuk kota Blitar yang terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Proklamator Bung Karno, tersimpan sebuah legenda mistis yang menyelimuti sebuah Rumah tua Di Jalan Melati, Kepanjenkidul.
Tempat tersebut dikenal sebagai Pesanggrahan Djojodigdo, atau lebih populer Di telinga Kelompok Didalam sebutan ‘Makam Gantung’.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kompleks ini bukan sekadar bangunan kuno, melainkan saksi bisu kisah Patih Djojodigdo. Ia merupakan seorang tokoh sakti yang dipercaya menguasai ilmu Ajian Pancasona.
Di Sinema-Sinema pendekar zaman dulu, ajian Pancasona adalah sebuah ilmu kesaktian yang sering disamakan Didalam Aji Rawa Rontek Untuk cerita rakyat.
Pemilik ajian ini diyakini tidak bisa mati Pada tubuhnya menyentuh tanah. Kepercayaannya, selagi tubuh sang pemilik ajian menyentuh tanah, maka dia tidak Akansegera bisa mati dan Akansegera hidup kembali.
Sosok utama Di balik legenda ini adalah Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, atau akrab disapa Eyang Digdo. Ia bukan orang sembarangan. Eyang Digdo disebut Memiliki darah bangsawan Yogyakarta.
Ia merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang Lalu melarikan diri Di arah timur hingga sampai Di Blitar. Di Kota Proklamator ini, Eyang Digdo diangkat menjadi Patih Ke 8 September 1877.
Kesaktiannya menjadi buah bibir Kelompok, terutama Sebab kemampuannya mengalahkan Belanda menggunakan kecerdikan dan kesaktian yang didapat Untuk laku tirakat. Mitos yang paling kuat beredar adalah mengenai kematiannya.
Sebab menguasai Ajian Pancasona, konon jika jasadnya menyentuh tanah, ia Akansegera hidup kembali. Hal inilah yang memicu kepercayaan bahwa jasad Eyang Digdo tidak dikuburkan Di Untuk tanah, melainkan “digantung” agar tidak bangkit lagi.
Tetapi, realitas fisik makam tersebut sebenarnya tidaklah benar-benar melayang Di udara, Sebab tidak Bisa Jadi Untuk dilakukan secara fisika.
Walaupun disebut Makam Gantung, peziarah yang datang tidak Akansegera menemukan peti mati yang bergelantungan Didalam tali. Makam Eyang Digdo sebenarnya berada Di atas tanah, Tetapi Didalam posisi nisan yang dibangun lebih tinggi dibandingkan makam Ke umumnya.
Pondasi lantainya setinggi 50 cm Didalam bangunan dasar berundak setinggi 1 meter. Juru Kunci makam Lasiman menjelaskan sebutan ‘Makam Gantung’ sebenarnya merujuk Ke benda-benda pusaka milik Eyang Digdo.
Sebab kesaktiannya, baju kebesaran dan senjata-senjata pusakanya lah yang digantung Di atas pusaranya, bukan jasadnya.
Meski demikian, aura mistis tetap terasa kental. Struktur cungkup makam yang unik seringkali menciptakan ilusi visual seolah-olah makam tersebut menggantung.
Memasuki area Pesanggrahan Djojodigdo, pengunjung Akansegera disambut suasana yang wingit. Kompleks ini terdiri Untuk pekarangan luas yang Di dalamnya terdapat Rumah induk, makam, sumur tua, dan pepohonan rimbun seperti pohon dewandaru dan nagasari yang dipercaya Memiliki tuah.
Dikutip jurnal “Legenda Arena Patih Djojodigdo Di Kota Blitar (Studi Cerita Rakyat)” yang ditulis Dari Desinta Ningtyas dan Sri Wahyu Widayati, ada aturan ketat Untuk siapa saja yang ingin berziarah.
Pengunjung diwajibkan melepas alas kaki (sandal atau Kasut) sebagai bentuk penghormatan kepada Eyang Digdo. Samping Itu, terdapat larangan membakar dupa.
Sebagai gantinya, peziarah disarankan membawa kembang telon wangi dan telur ayam kampung. Kelompok percaya Kartu Merah Pada aturan ini mendatangkan bala, seperti kisah seorang pencuri pagar besi makam yang konon Merasakan kelumpuhan hingga akhir hayatnya.
Tetapi, warisan Eyang Digdo bukan hanya soal klenik. Ia mewariskan filosofi hidup yang disebut Ta Pitu kepada keturunannya dan Kelompok Blitar. Ketujuh ajaran tersebut adalah sebagai berikut.
Tata: Mengetahui aturan dan sopan santun.
Titi: Teliti dan hati-hati Untuk bertindak.
Tatag: Berani dan bertanggung jawab (mental baja).
Titis: Tepat Untuk analisa dan Prediksi.
Temen: Bersungguh-sungguh dan jujur (gemi).
Taberi: Rajin dan tidak malas.
Tlaten: Sabar dan tekun Untuk Melakukanlangkah-Langkah.
Hingga kini, setiap tanggal 1 bulan Ruwah, diadakan Kearifan Lokal Haul Eyang Patih Djojodigdo yang melibatkan Kelompok Di Didalam sajian wajib berupa ingkung ayam jago utuh dan sega gurih.
Kearifan Lokal ini menjaga nama Eyang Digdo tetap hidup, bukan sekadar sebagai pemilik Ajian Pancasona atau Rawa Rontek, tetapi sebagai leluhur yang dihormati Di tanah Blitar.
Itulah berita terpopuler detikTravel, Jumat (30/1) kemarin. Samping Itu, ada juga berita tentang Potensi hidup macan tutul pincang Di gunung Sanggabuana yang sangat tipis hingga heboh pemilik hotel Di Lombok mengajak 3 warlok (warga lokal) Untuk berhubungan seks secara Threesome.
Berikut Daftar Berita Terpopuler detikTravel, Jumat (30/1/2026):
1. Makam Tak Biasa Pemilik Ajian Pancasona, ‘Tergantung’ Di Atas Tanah
2. Tipis, Potensi Hidup Macan Tutul Pincang Di Gunung Sanggabuana
3. PN Solo Sahkan Nama KGPH Purbaya Karena Itu PB XIV, Begini Respons Keluarga
4. Foto Liburan Keluarga Wulan Guritno Di Gili Meno
5. Ada Syuting Sinema yang Dibintangi Lisa BLACKPINK, Jalanan Jakarta-Kota Tua Ditutup
6. Penduduk Tinggal 14 Orang, Desa Ini Minta Status Warisan Dunia UNESCO Dicabut
7. Wanita Palembang Nekat Nyamar Karena Itu Pramugari, Batik Air Buka Suara
8. Pertemuan Hangat Antara PB XIV Mangkubumi dan Mangkunegara X
9. Tembok Besar China Membeku, Karena Itu Tempat Seluncuran
10. Heboh WN Selandia Mutakhir Pemilik Hotel Di Lombok Ajak 3 Warlok Threesome
(wsw/wsw)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Makam Pemilik Ajian Pancasona yang Tidak Biasa, ‘Tergantung’ Di Atas Tanah











