loading…
Aturan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi langkah strategis Untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus Memangkas ketergantungan Indonesia Di Perdagangan Masuk Negeri solar. Foto/Dok
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono mengatakan, penggunaan B50 dapat menekan angka Perdagangan Masuk Negeri energi. Berkurangnya kebutuhan Perdagangan Masuk Negeri solar juga Berpotensi Untuk Memberi dampak positif Di neraca perdagangan dan Nilai Mata Uang Idr.
“Kalau yang disampaikan demikian, memang itu Berencana menurunkan angka Perdagangan Masuk Negeri. Salah satu dampaknya nanti juga bisa Di apresiasi Nilai Mata Uang Idr,” ujar Hendry Di dihubungi, Kamis (18/06/2026).
Baca Juga: Peneliti UI: Implementasi Biodiesel B50 Perlu Penguatan Produksi Sawit Hingga Sektor Hulu
Pemerintah Meramalkan penerapan B50 dapat membuat Indonesia menghentikan Perdagangan Masuk Negeri solar dan menghemat devisa hingga Rp157 triliun. Menurut Hendry, target tersebut dapat dicapai Pada pemerintah telah menghitung secara cermat kebutuhan bahan baku, kapasitas industri biodiesel, serta skema pembiayaannya.
Ia menilai mandatori B50 juga dapat menjadi salah satu proyek penting Di mewujudkan ketahanan energi. Meski swasembada energi tidak hanya bergantung Ke biodiesel, peningkatan penggunaan bahan bakar berbasis sumber daya domestik dapat Memangkas ketergantungan Di pasokan Didalam luar negeri.
“Kalau nanti B50 digunakan dan sektor industri juga menggunakan B50, itu bisa menjadi salah satu pilot project Untuk ketahanan energi,” ucapnya.
Lebih jauh Hendry menambahkan, penerapan B50 juga dapat Mendorong Perkembangan industri biodiesel nasional. Peningkatan permintaan bahan bakar nabati dapat membuka Penanaman Modal Mutakhir, Meningkatkan utilisasi pabrik biodiesel, serta menciptakan efek berganda Di sektor perkebunan dan industri pengolahan sawit.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Mandatori B50 Buka Kemungkinan Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih











