Bukan Masker Basah, Kemenkes Ungkap Jenis Masker yang Ampuh Tangkal Abu Vulkanik

Jakarta

Beredar saran Ke media sosial mengenai penggunaan masker basah Untuk melindungi diri Bersama paparan abu vulkanik.

Saran tersebut beredar Ke Di meluasnya abu vulkanik. Salah satu akun Ke X menyarankan penggunaan masker double Bersama salah satu masker dibasahi dan dipakai Ke Dibagian luar.

“Bawa masker double. Dibagian yang basah Ke luar, yang kering Ke Di, biar abunya nempel Ke luar. Ini buat yang nggak punya KN95,” cuit salah satu User akun X.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi, cara tersebut jelas tidak dianjurkan. Kemenkes Di Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesejajaran Kelompok Di Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau menekankan perlindungan terbaik Di terjadi hujan abu vulkanik adalah penggunaan masker N95, KN95, KF94, FFP2, atau yang setara, jika harus berada Ke luar ruangan.

Bila masker respirator tersebut belum tersedia, Kelompok dapat menggunakan masker medis yang tersedia sebagai perlindungan Sambil.



“Masker juga harus digunakan Bersama benar, yakni menutupi hidung, mulut, hingga dagu. Masker perlu segera diganti apabila sudah basah, kotor, rusak, atau membuat penggunanya kesulitan bernapas,” saran Kemenkes RI Di SE yang diteken Sekretaris Jenderal Kunta Wibawa.

Masker Basah Malah Bisa Bikin Masalah

Ahli Kepuasan spesialis paru dan pernapasan, dr Agus Dwi Susanto SpP(K) Bersama RSUP Persahabatan, mengatakan masker yang sengaja dibasahi bukan cara yang tepat Untuk menangkal abu vulkanik.

Menurutnya, Situasi masker yang lembap justru dapat menjadi lingkungan yang mendukung Perkembangan mikroorganisme.

“Kan biasanya Patogen dan bakteri itu suka yang lembap-lembap. Kalau dipakai Pada sekian jam Ke luar, justru ISPA (Penyakit Menyebar Saluran Pernapasan Akut) Berencana lebih cepat terjadi. Malahan bisa tumbuh jamur juga,” kata dr Agus Ke detikPagi, Senin (7/9/2026).

Dia menjelaskan masker respirator yang digunakan Di Situasi seperti Bencana Alam maupun bencana abu vulkanik tetap perlu diganti secara berkala.

Sebab, masker Berencana Lebih lembap seiring pemakaian akibat uap air Bersama napas. Ke Di Itu, masker juga Berencana Menyita berbagai partikel Bersama udara luar.

“Nah, kalau lembap itu menjadi sumber Penyakit Menyebar. Karenanya harus diganti misalnya 6 sampai 8 jam sekali, dan tidak boleh dibasahi ya,” ujarnya.

Menurut dr Agus, membasahi masker Di Berjuang Bersama abu vulkanik juga dapat menimbulkan masalah lain.

Abu vulkanik mengandung berbagai material, salah satunya silika. Ketika masker Di Situasi basah, partikel tersebut dapat lebih mudah menempel dan membuat lapisan masker menjadi Lebih padat.

“Nempel bisa Dari Sebab Itu kayak semen. Bayangkan kalau masker kita Dari Sebab Itu padat, itu Berencana membuat sesak napas, udaranya nggak bisa masuk Sebab ada lapisan tebal yang seperti semen akibat debu nempel Ke masker yang basah tadi,” jelasnya.

Waspadai Tanda-Tanda Gangguan Pernapasan

Kemenkes mengimbau Kelompok segera menghubungi layanan kegawatdaruratan jika Merasakan gangguan pernapasan seperti batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, bibir atau ujung jari kebiruan, hingga kesulitan berbicara akibat sesak.

Pertolongan medis juga diperlukan jika muncul gangguan penglihatan seperti mata nyeri dan merah.

Ke Di Itu, segera cari pertolongan apabila muncul Situasi darurat lain seperti kejang, penurunan kesadaran, atau keluhan yang Lebih berat.

Halaman 2 Bersama 2

(naf/up)


Masker Dikejar Imbas Debu

11 Konten

Sebaran abu vulkanik Bersama erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masker Dari Sebab Itu buruan banyak orang. Tak butuh waktu lama, kelangkaan imbas panik buying mulai bikin resah. Sudah langka, mahal pula.

Konten Berikutnya

Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya


Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Bukan Masker Basah, Kemenkes Ungkap Jenis Masker yang Ampuh Tangkal Abu Vulkanik