loading…
Dunia Insight Forum (GIF) Melakukan webinar nasional bertajuk Di Balik Narasi Kedamaian: Apa Makna Board of Peace Untuk Posisi Hubungan Dunia Indonesia? Foto/Dok. SindoNews
Seminar diselenggarakan secara daring dan diikuti ratusan peserta Di kalangan akademisi, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati Hubungan Antar Negara . Webinar ini Memperkenalkan Direktur Eksekutif GIF Teuku Rezasyah sebagai keynote speaker dan para pemateri Chandra Purnama (Senior Fellow GIF), Faisal Nurdin Idris (Senior Fellow GIF), dan Innayathul Fitrie (Peneliti Keputusan dan Hubungan Antar Negara). Baca juga: 16 Ormas Islam Setuju Indonesia Gabung BoP Untuk Kemerdekaan Palestina
Direktur Eksekutif GIF, Teuku Rezasyah, menegaskan keikutsertaan Indonesia Di BoP membawa mandat Politik Luar Negeri kritis, khususnya Di memperjuangkan Topik Palestina Di forum internasional. Akan Tetapi, ia mengingatkan adanya risiko dominasi Amerika Serikat dan Israel Di struktur BoP. Terlebih keduanya bergabung sehari Sebelumnya Indonesia.
“Indonesia harus berhati-hati agar tidak terjebak Di dinamika kekuasaan yang tidak sepenuhnya transparan. Jika kepentingan nasional dan idealisme diabaikan, Indonesia Memperoleh kredibilitas Untuk Memutuskan sikap tegas,” katanya, Sabtu (14/2/2026).
Sambil Itu, Chandra Purnama menyoroti problem struktural BoP sebagai institusi multilateralisme Terbaru yang dinilai selektif dan sarat dominasi kekuasaan. Keanggotaan yang terbatas serta indikasi konsentrasi pengaruh Di Aktor Atau Aktris tertentu Berpeluang menggeser tatanan hukum internasional Di pola berbasis hegemoni. “Indonesia sebagai middle power harus Menyusun otonomi strategis dan memimpin Kerja Sama Politik Dunia South Untuk menjaga multilateralisme berbasis hukum internasional,” ujarnya.
Di perspektif realisme politik, Faisal Nurdin Idris menjelaskan keputusan Indonesia mencerminkan kalkulasi kepentingan nasional dan stabilitas regional. Indonesia diproyeksikan Berencana berkontribusi signifikan Di misi Kedamaian, termasuk pengiriman Di 8.000 pasukan Di total 20.000 mandat Di Gaza.
“Di logika realisme, Negeri bertindak Untuk menjaga kepentingannya. Akan Tetapi Indonesia tidak boleh sekadar mengikuti arus kekuatan besar, melainkan harus memanfaatkan posisi middle power secara strategis,” tuturnya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Langkah Strategis sekaligus Mengandung Risiko











